PSGA UIN Gus Dur Adakan ToT Penanganan Kekerasan Seksual

Pekalongan (05/10) – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan adakan Training of Trainer (ToT) tentang penanganan kekerasan seksual. Mengambil tema Psychological First Aid dalam Penanganan Kekerasan Seksual, acara dilaksanakan di Hotel Dafam Pekalongan pada Rabu, 5 Oktober 2022.

Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari sivitas akademika UIN Gus Dur, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pekalongan, Lembaga Perlindungan Perempuan Anak Dan Remaja (LP-PAR) Kota Pekalongan, dan Asosiasi Bimbingan Konseling Kabupaten Pekalongan. Kegiatan Training for Trainer (ToT) dalam penanganan kekerasan seksual merupakan langkah sebagai pertolongan pertama pada psikologi. ToT ini rencananya akan dilanjutkan pada 11 Oktober 2022.

Dalam sambutannya, Ketua LP2M Prof. Dr. Imam Kanafi, M.Ag., menyatakan harapannya agar ToT ini dapat memaksimalkan kemampuan psychological first aid seluruh peserta. “Karena 75% penyakit berasal dari kejiwaan, sedangkan sisanya bersumber dari eksternal,” ungkap Prof. Imam. Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah bertambahnya trainer dalam menangani kekerasan seksual sehingga menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama pada korban kekerasan seksual.


Peserta ToT antusias dalam mengikuti materi yang disampaikan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah tentang metode-metode penanganan kekerasan seksual. Di antara metode tersebut yakni studi kasus, menganalisis video, menemukan segala hal tentang kekerasan seksual dan bagaimana penanganan pertamanya guna menjaga stabilitas mental korban. “Dengan menggunakan metode 5 D (ditegur, dialihkan, dilaporkan, ditenangkan dan direkam) bisa menjadi pertolongan pertama pada penanganan kekerasan seskual yang terjadi di sekitar kita,” tandasnya.

Pada kegiatan ToT ini dalam penanganan kekerasan seksual juga dibahas mengenai data, bentuk dan jenis kekerasan seksual, penyebab terjadinya, tantangan dan penanggulangannya serta penanganan dengan menggunakan perspektif korban. Namun pada hakikatnya kesuksesan kegiatan ini adalah ketika terdapat kasus yang perlu ditangani, trainer bisa memunculkan ikatan emosi kepada korban dengan melihat reaksi dari korban tersebut.

Reporter : Fitri Kurniawati