PBAK UIN Gusdur Bekali Mahasiswa Baru tentang Wawasan Keadilan Gender Islam Guna Menciptakan Budaya Nir Kekerasan di Kampus

Pekalongan– Jumat(11/8) dalam acara PBAK UIN Gusdur, hadir narasumber dari KUPI yakni Ibu Nyai Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm membekali mahasiswa baru tentang wawasan keadilan gender Islam dalam menciptakan budaya nir kekerasan di kampus. Acara dimoderatori oleh Dewi Anggraeni, Lc, M.A., selaku Dosen PAI UIN Gusdur bertempat di Masjid UIN Gusdur.

Pada kesempatan tersebut, Nur Rofiah  menyampaikan bahwa akar dari problematika kekerasan seksual kekerasan seksual sangatlah komplek dan harus didekati dengan perspektif adil gender. Menurutnya bahwa cara pandang negatif atas perempuan ini telah mewarnai cara pandang manusia atas dunia selama berabad-abad lamanya. Peradaban manusia diwarnai oleh tradisi tidak manusiawi pada perempuan. Misalnya penguburan bayi perempuan hidup-hidup saat lahir karena memalukan, menjadikan perempuan sebagai komoditas, hadiah, warisan, bahkan boleh dinikahi tanpa batas oleh laki-laki, tegasnya. Inilah kondisi Masyarakat jahiliyah pada saat itu dan Islam hadir untuk memerangi ketidakadilan pada manusia, memberikan maslahat dan Rahmat bagi semua umat manusia tanpa terkecuali, Islam yang rahmatan lil’alamin.

Oleh karenya, pemahaman konsep  keadila gender Islam perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa. Gender bukan hanya berfokus pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, melainkan juga memahami peran sosial dan konstruksi budaya yang membentuk persepsi tentang maskulinitas dan femininitas. Lebih-lebih mahasiswa harus kritis, dalam memahami ajaran Islam sebagai cara pandang yang adil gender. Islam telah menegaskan kemanusiaan perempuan sejak awal hadir. Artinya, perempuan dan laki-laki sama-sama berstatus hanya hamba Allah yang mengemban amanah sebagai Khalifah fil Ardl. Keduanya menjadi subyek penuh sistem kehidupan sehingga sama-sama wajib mewujudkan kemaslahatan di muka bumi, sekaligus berhak menikmatinya”, kata Nyai Nur Rofi’ah.

Lebih lanjut, Rofiah juga menegaskan bahwa jika memandang makhluk hanya sebagai makhluk fisik, maka kita akan kehilangan jati diri, sehingga dipandang rendah seperti benda. Jati diri kemanusiaan dapat dibentuk dengan mengimplementasikan prinsip adil gender dalam Islam yakni 1) konsep tauhid, memandang manusia hanya hamba Allah. Prinsip Tauhid ini akan membawa perilaku adil gender. Larangan keras bagi laki-laki memperlakukan Perempuan sebagai hambanya, karena Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai hamba Allah. 2) Taqwa. Nilai kemanusiaan di mata Allah hanya tergantung dari standar Tunggal yakni Taqwa. Taqwa adalah keyakinan adanya Tuhan yang dibuktikan dengan perilaku kebaikan dan kemaslahatan kepada sesama manusia. 3) Halalan, tayyiban wa ma’rufan. Berislam itu harus memperhatikan halal dalam setiap perilaku, namun perlu juga dipahami bahwa yang halal juga harus tayyib dan ma’ruf.

Dengan pemahaman ini, mahasiswa akan lebih mampu mengenali tindakan-tindakan yang dapat melanggengkan ketidakadilan gender dan mendukung terciptanya lingkungan yang aman, inklusif, dan menghormati hak-hak setiap individu. Sebagaimana visi UIN Gusdur yakni “menjadi Universitas Islam unggul dalam pengembangan ilmu untuk kemanusiaan berlandaskan budaya bangsa”. Visi kemanusiaan ini dapat diwujudkan jika mahasiswanya memiliki perspektif keadilan gender Islam.

Semangat menciptakan Budaya Nir Kekerasan di Kampus juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan UIN Gusdur sebagai Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG). PSGA sebagai leading sector dari implementasi PTRG ini senang sekali dengan adanya pembekalan kepada mahasiswa baru memberikan pencerahan tentang wawasan keadilan gender Islam dan pencegahan kekerasan seksual di kampus. Kampus harus aman dan nyaman serta terbebas dari segala bentuk kekerasan ungkap Ningsih Fadhilah selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Anak UIN Gusdur. Acara ini sebagai bukti komitmen pimpinan UIN Gusdur untuk memastikan bahwa mahasiswa baru tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga harus memiliki kesadaran sosial yang berkarakter melalui cara pandang yang adil gender, inilah high values jati diri kemanusiaan seseorang. Diharapkan, pemahaman yang diberikan oleh Bu Nyai Nur Rofiah ini bermanfaat dan menjadi nilai dasar karakter mahasiswa UIN Gusdur Pekalongan, menjadi gusdurian-gusdurian muda yang mampu memanusiakan manusia.


Reporter  : Ningsih Fadhilah, M.Pd.
Redaktur  : Humas LP2M