Mengulik Sumber Daya Alam Desa Cilibur

Brebes (12/10) peserta KKN kelompok 53 IAIN Pekalongan melakukan kunjungan ke perkebunan kopi, penyemaian kopi, dan peternakan lebah klanceng. Adapun perkebunan kopi terletak di Dk. Kumambang dan tempat penyemaian kopi serta peternakan lebah klanceng terletak di Dk. Beran. Kunjungan yang dilakukan oleh mahasiswa peserta KKN dimaksudkan untuk melakukan perencanaan program kerja.

Adapun luas perkebunan ini mencapai sekitar 336 hektare yang ditanami pohon kopi sejumlah 16.000 batang. Lahan tersebut adalah milik Perhutani Pekalongan Barat yang digarap oleh warga Desa Cilibur. Penanaman kopi di Desa Cilibur sudah dilakukan sejak tahun 2017. Hingga saat ini kopi Cilibur sudah pernah sekali panen. Adanya perkebunan kopi ini pada mulanya hanyalah hutan pinus dan beberapa tanaman seperti jagung, kemudian diinisiasi oleh LMDH untuk ditanami kopi. Tanaman kopi dipilih karena akar dan pohonnya yang kuat sehingga diharap mampu menyerap air, mencegah banjir maupun kekeringan. Selain itu, kopi juga merupakan komoditas unggul yang laku keras dipasaran.

Untuk mendapatkan hasil kopi terbaik, warga Cilibur membeli benih kopi jenis arabica dari Jawa Barat dan hanya menggunakan biji kopi yang sudah bersertifikat sebagai benih. Benih kopi ini dibeli dengan harga Rp. 2.250,- per biji. Kemudian dilakukan penyemaian di Dk. Beran, guna mempersiapkan sampai pohon-pohon itu siap untuk ditanam di kebun. Bakal pohon kopi itu disemai/disiram sebanyak dua kali sehari. Pohon kopi harus ditanam di tempat yang lembab, udara dingin justru baik untuk pertumbuhannya. Pada 6 bulan pertama memang tidak boleh dicampur dengan tanaman lain, tetapi setelah lewat dari itu boleh menanam apa saja di sekitar kopi. Pohon kopi dapat hidup berdampingan dengan tanaman lain asalkan perawatannya tepat, maka antara kopi dan tanaman lain akan sama-sama mendapatkan hasil yang maksimal.

Di sini terdapat problematika baru, dimana para petani ada yang enggan menanam kopi dengan dalih harus menunggu 6 bulan agar bisa menanam tumbuhan lain. Selain itu, sebagian orang yang menanampun mayoritas masih belum begitu paham bagaimana cara perawatan yang baik guna memperoleh hasil unggul. Begitupun cara panen dan memilah biji kopi sesuai dengan greate-nya. Problem lain yang dihadapi adalah tani kopi di sini belum sampai tahap pengolahan hasil. Karena hasil kopi yang masih biji akan disetorkan ke pengepul tanpa melalui LMDH, dan masyarakatpun tidak mengolah sendiri hasilnya.

“Masalahnya petani kopi di sini masih kurang faham pemeliharaan dan juga proses panen yang baik, jadi hasilnya msih kurang maksimal”, ungkap Bapak Wasis selaku ketua LMDH. Perkebunan kopi berdampak baik bagi keberadaan lebah klanceng. Karena pucuk daun kopi yang masih muda dan bunganya mengandung zat makanan yang dapat menarik perhatian lebah ini. Lebah klanceng merupakan lebah penghasil madu yang baik. Lebah ini berbentuk kecil-kecil dan berwarna hitam, dan memiliki radius terbang hingga mecapai 100 meter. Kabar baik lainnya adalah warga tidak perlu merasa takut disengat oleh kawanan lebah tersebut karena lebah klanceng merupakan jenis lebah yang tidak menyengat.

Lebah-lebah itu diternak dalam kotak-kotak yang diletakkan di berbagai sudut atap rumah. Menurut Wasis, tidak ada perawatan khusus yang diperlukan dalam memelihara lebah klanceng, sehingga sangat menguntungkan jika dijadikan pekerjaan sampingan. Lebah-lebah ini dibeli dari Klaten, dengan harga Rp. 150.000,- per bibit lebah.

“Cukup dibiarkan saja di rumah, mereka akan cari makan sendiri”, terang Wasis pada kami. Lebah-lebah ini akan membentuk koloni baru setelah satu hingga dua minggu dibiarkan di dalam kotak. Masing-masing koloni mempunyai seekor ratu lebah, dan mereka akan menghasilkan madu setiap harinya. Madu yang dihasilkan sekitar 200-250 ml setiap kali panen. Yang mana panen dilakukan setelah pemeliharaan hingga 2 bulan lamanya. 250 ml madu lebah klanceng dihargai Rp. 100.000,-.
Kelompok 53 Desa Cilibur Kec. Paguyangan Kab. Brebes – Berita Minggu Ke 2