LP2M Gelar Workshop Penelitian Dosen Muda

lp2m iain pekalongan gelar workshop penelitian dosen muda.jpg

“Semakin banyak publikasi seorang dosen, kian bagus juga mutu sebuah perguruan tinggi. Bahkan, bisa dikatakan, “iman” seorang dosen akan sempurna jika mempublikasikan karyanya,” jelas Dr. Maghfur Ahmad membuka acara Workshop Metodologi Penelitian Dosen di Kampoeng Kopi Banaran.

Maghfur menjelaskan seorang dosen yang tidak memiliki publikasi dipertanyakan kapasitasnya. Oleh karena itu, Ketua LP2M IAIN Pekalongan ini selalu mendorong terciptanya iklim akademik yang kondusif di kampus.

Untuk mewujudkannya, diselenggarakan berbagai pelatihan penelitian yang bisa menginspirasi dosen-dosen muda. “Dosen-dosen muda di sini memiliki masa depan yang masih panjang, yang harus segera berakselerasi,” tuturnya.

Acara ini dihadiri oleh 35 dosen muda IAIN Pekalongan. Diharapkan acara ini akan melahirkan inspirasi untuk memproduksi karya ilmiah yang bermutu dan layak publikasi.

Pelatihan ini menghadirkan tiga pembicara utama yang berkompeten di bidangnya. Kasi Publikasi Ilmiah Dit. PTKI, Dr. Mahrus menegaskan seorang peneliti harus meletakkan objektivitas sebagai landasan utama dalam melakukan sebuah kajian. Tanpa itu, penelitian akan terjerumus pada prasangka yang tidak berdasar dan akan dipertanyakan konteks keilmiahannya sebagai sebuah karya.

“Dalam konteks kajian filologi, misalnya, naskah kuno menimbulkan berbagai tanggapan dari para pemilik naskah kuno. Secara akademik, naskah kuno mengandung banyak unsur, antara lain sebagai warisan budaya, transmisi keilmuan, pusaka keluarga atau jimat, dan buku peradaban suatu zaman,” papar Mahrus.

Mahrus menyatakan setidaknya terdapat dua tren filologi di kalangan akademisi Kemenag. Pertama, filologi Arab yang dikembangkan pada Direktorat Pontren dan Madrasah Pendis. Kedua, filologi latin yang dikembangkan di Perguruan Tinggi.

Sementara itu, Dr. Dewi Candraningrum, selaku pembicara berikutnya, mengatakan bahwa penelitian yang baik adalah penelitian berpihak. Dalam artian, tidak mengingkari prosedur akademik. Semua prosedur harus dilalui agar sebuah karya penelitian bisa dipertanggungjawabkan kebenaran ilmiahnya. “Keberpihakan sebuah penelitian terletak pada objektivitasnya,” tambahnya.

Pakar kajian Gender dari Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menyayangkan seorang peneliti yang melupakan isu-isu gender dalam suatu penelitian. Karena hilangnya sensivitas gender bisa berdampak pada akurasi dalam menentukan kebijakan yang berpijak dari penelitian terkait.

Perempuan bergelar doktor dari Universitaet Muenster, Jerman ini mencontohkan dalam bencana yang dibutuhkan tidak hanya persoalan pangan dan papan. Namun juga hal-hal yang berkaitan dengan data gender. “Semakin akurat data gender, maka akan menunjukkan keberpihakannya terhadap isu-isu gender itu sendiri,” lanjut Dewi.

Pembicara lain yaitu, Dr. H. Sholihan, M.Ag dari UIN Walisongo Semarang, yang memaparkan landasan filosofis riset social-keagamaan interdisipliner. Sementara itu, Dr. Muhlisin menjelaskan Teknik penulisan hasil penelitian. Wakil Rektor 1 Bidang Akademik ini mengatakan bahwa riset memainkan peran vital bagi akademisi. Selain sebagai ruh perguruan tinggi, lanjut Muhlisin, riset juga sebagai tolok ukur muruah kampus. “Maka, makin bagus riset makin tinggi juga muruh perguruan tinggi itu.”

Berbeda dengan nuansa pelatihan pada umumnya, workshop kali ini berusaha menampilkan lokalitas ke-Indonesiaan. Semua peserta dan pembicara mengenakan sarung untuk laki-laki dan perempuan menggunakan pakaian bebas sopan. “Membentuk identitas ke-Indonesian dari pakaian. Harapannya bisa menumbuhkan riset-riset yang berkeindonesian, yang kontekstual dan tidak gagap terhadap hal-hal yang beraroma lokal, ujar Sekretaris LP2M Musoffa Basyir, M.Ag.

Di akhir acara, dirumuskan pembentukan kluster penelitian pembinaan (pemula) yang terhimpun dalam kelompok filologi, gender, riset islam, dan Islam Nusantara. Masing-masing kelompok, nantinya, akan dipandu oleh seorang mentor yang diusulkan atau ditunjuk. (Zk)